Sebenarnya Kolom Santri menyadari betul bukanlah langkah bijak untuk membandingkan penjelasan ilmiah KH. Baha'uddin Nur Salim atau yang lebih akrab dipanggil Gus Baha' dengan twitt receh Abu Janda yang kini aktif di akun twitternya @permadiaktivis.


Namun berhubung tweet dari Abu Janda ini mendapat respon cukup besar dari warganet dengan banyaknya like dan share, Kolom Santri merasa perlu untuk membahas ini dari sudut pandang kajian ilmiah keislaman, dari pakar tafsir dan hafidz Al Qur'an, yakni Gus Baha'uddin Nur Salim.


Beberapa hari  yang lalu Abu Janda menulis lewat akun twitternya, "Tapanuli makan Babi dari jaman Belanda, gak ada virus Corona. Minahasa makan Babi dari jaman Kumpeni, gak ada virus Corona. Bali makan Babi dari jaman VOC, gak ada virus Corona. Jadi yang masalah bukan Babi, tapi orang pake gamis sorban kelakuan kayak Babi. DASAR BABI. #NgegasPagi."


Memang masih diperlukan kajian mendalam hubungan antara virus Corona dengan babi. Hal ini karena berdasarkan informasi yang beredar, virus Corona bermula dari kebiasaan masyarakat kota Wuhan yang terbiasa mengkonsumsi binatang liar seperti kelelawar dan katak.


Meskipun begitu tidak layak bagi seseorang muslim, apalagi mengaku berafiliasi kepada Ormas Islam Nahdlatul Ulama' untuk menuliskan sesuatu yang seolah olah mengkonsumsi babi tidaklah masalah. Apalagi ditambah dengan menghina pakaian yang paling disukai Nabi berdasarkan pada hadits
كَانَ أَحَبَّ الثِّيَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقَمِيصُ
“Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762 dan Abu Daud no. 4025).


Berbanding terbalik dengan Abu Janda, Gus Baha' yang merupakan salah satu Rois Syuriah Nahdlatul Ulama' (yang seharusnya menjadi rujukan Abu Janda) menjelaskan dengan sangat gamblang mengenai penyakit yang tersebar sebab manusia melanggar syari'at Alloh.


Dilansir dari channel youtube Kalam - Kajian Islam, Gus Baha' menceritakan seorang dokter yang sowan kepada KH. Maimoen Zubair yang lebih akrab dipanggil Mbah Moen. Si dokter mengatakan bahwa dirinya terobsesi untuk menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit aids, dimana penyakit aids ini muncul karena kehidupan seks bebas.


Tetapi Mbah Moen yang sangat kasih sayang kepada umat itu justru tidak setuju dengan si dokter. Dengan alasan terkadang Alloh memang menghendaki untuk menghukum orang karena pelanggaran syari'at, supaya orang tersebut kembali kepada Alloh. Demikianlah penjelasan Gus Baha'.


Jika kita tarik kesimpulan, lalu kita qiyaskan sebab munculnya aids dan Corona adalah sama sama pelanggaran syari'at, yakni perzinahan dan memakan binatang liar, maka dapat kita simpulkan kesalahan fatal dari Tweet Abu Janda.


Bayangkan jika logika berfikir Abu Janda  diberlakukan pada pelaku zina. Sudah zina berkali kali dan sudah sejak lama, tapi tidak terjangkit aids. Itu berarti zina tidak masalah. Tentu ini logika berfikir ini perlu dilawan sehingga umat tidak tertipu seolah olah pelanggaran syari'at tidak ada resikonya di dunia ini.


Demikian opini dari Kolom Santri, semoga bermanfaat. Bagaimana pendapat kalian, silahkan tulis di kolom komentar yaa

2 Komentar

  1. Sepakat,,, yang jadi pertanyaan saya, kenapa sekelas abu janda justru serung dipakai ansor?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo itu tidak tahu kang... Tetapi dengar dengar sudah ada teguran terhadap GP Ansor dari kyai sepuh NU terkait Abu janda..
      Sekarang dia sudah tidak pakai atribut Banser lagi

      Hapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama